ENTREPRENEURSHIP DAN POTENSI BERWIRAUSAHA MAHASISWA

Image

Akhir-akhir ini, isu topik kemandirian ekonomi semakin gencar dibahas oleh berbagai kalangan yang menyebabkan muncul kegiatan-kegiatan seputar sosialisasi kewirausahaan. Tidak hanya ekonom atau pun orang-orang yang bergerak dalam bidang ekonomi saja yang sibuk memikirkan bahkan berkecimpung dalam pembahasan kewirausahaan. Saat ini, seseorang tidak lagi dituntut untuk mencari kerja semata, tetapi juga bagaimana untuk berdiri sendiri (mandiri) dalam hal perekonomian dan meningkatkan derajat finansial dan self-esteem (harga diri). Kewirausaahan juga termasuk dalam aktualisasi diri manusia untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Tuntutan sebagai makhluk sosial yang disandang oleh setiap insan sehingga melahirkan banyak problema saling terkait, terutama bidang kesejahteraan hidup.

Sekilas mengingat kembali definisi wirausaha atau wiraswasta, dapat diartikan sebagai seorang yang menerapkan kemampuannya untuk mengatur,menguasai alat2 produksi dan menghasilkan hasil yang berlebihan selanjutnya dijual/ditukarkan dan memperoleh pendapatan dari usahanya tersebut. (Mc Clelland,1967). Berbeda lagi dengan yang diungkapkan Schumpeter terkait definisi wirausaha yakni seseorang yang menggerakkan perekonomian masyarakat untuk maju kedepan,dimana mereka yang berani mengambil resiko,mengkordinasi untuk mengelola penanaman modal/sarana produksi,mereka yang mengenalkan fungsi faktor produksi baru,mereka yang memiliki respon yang kreatif dan inovatif.
Menurut Imam S. Sukardi (1984) pengertian wiraswastaan menunjuk kepada kepribadian tertentu, yakni pribadi, yang mampu berdiri di atas kekuatan sendiri. Manusia yang mampu berdiri di atas kekuatan sendiri berarti mampu mengambil keputusan untuk diri sendiri, mampu menetapkan tujuan yang ingin dicapai atas dasar pertimbangannya sendiri. Sehingga seorang wiraswastaan ini adalah seorang yang merdeka lahir dan batin.
Pengertian wiraswasta mirip dengan pengertian entrepreneurship namun berbeda dari segi falsafahnya entrepreneurship merupakan konsep yang timbul di dunia barat yang berfalsafah hidup individualisme, sedangkan kewiraswastaan didasarkan pada falsafah hidup bangsa Indonesia sosialistis, yaitu menekankan pada keserasian, keselarasan, dan keseimbangan antara individu yang bersangkutan dengan masyarakat. (Moh.As’ad, 2004).
Masih banyak lagi definisi kewirausahaan, karena setiap orang memiliki cara pandang yang berbeda, hanya pada dasarnya sama saja. Tuntutan hidup yang semakin merajalela seiring terjadinya perubahan sosial, maka seseorang dituntut pula untuk bertahan hidup. Manusia yang diciptakan untuk saling bergantung sama lain tidak selamanya harus bergantung pada oranglain, namun juga harus bisa berdiri sendiri dan membantu perekonomian bangsa dan negara.
Kenyataan menunjukkan kepada kita bahwa peranan sektor swasta mempunyai andil yang tidak kecil dalam perekonomian masyarakat, baik ini di negara maju maupun di negara berkembang. Djoko Suryo berpendapat bahwa besar kecilnya sumbangan sektor swasta dalam pembangunan perekonomian masyarakat antara negara satu dengan yang lain sering berbeda-beda, sesuai dengan derajat atau kualitas kewiraswastaan yang dimiliki oleh masyarakat yang bersangkutan. (Moh.As’ad,2004)
Oleh karena itu, muncul perusahaan-perusahaan atau pun lembaga usaha dan organisasi atau program yang menaungi dan memfasilitasi hal-hal seputar Entrepreneurship (Kewirausahaan).
Menurut Jusuf Kalla saat mengisi agenda kewirausahaan mengatakan bahwa keberadaan sebuah tenaga kerja di perguruan tinggi bernilai penting. Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (2010) mengemukakan, bursa khusus di perguruan tinggi (PT) adalah salah satu solusi permasalahan ketenagakerjaan di Indonesia, khususnya berkaitan dengan penempatan tenaga kerja. Oleh karena itu, peranan perguruan tinggi sangat diharapkan mampu menjembatani kesenjangan antara dunia kerja dan dunia pendidikan. Potensi berwirausaha sangat besar terutama pada kaum muda misalnya mahasiswa. Mahasiswa mempunyai peran penting dalam proses regenerasi kehidupan kebangsaan, jadi salah satunya adalah menjadi wirausaha. Siapapun bisa menjadi pengusaha walaupun bukan sarjana. (www.uin-malang.ac.id)
Tidak hanya Jusuf Kalla saja yang mengungkapkan itu, Romi Satria Wahono, seorang pengusaha muda, dalam mengisi seminar entrepreneurship tahun 2010 di UIN MALIKI Malang mengatakan bahwa beranjak pada era globalisasi yang sebenarnya telah muncul sejak era tahun 1990-an yang merupakan versi ketiga yang mana ada slogan “Individu bisa membuat perubahan”. Kata kuncinya adalah perubahan.
Menurut Ranupandojo Heidirachman dalam bukunya berjudul “Wiraswasta Indonesia Sebuah Renungan” mengungkapkan bahwa jumlah wirausahawan di Indonesia masih sangat terbatas baru mencapai 0,01 persen dari jumlah penduduk yang berjiwa wiraswasta.
Menurut Suparman Sumahamijaya dalam artikel yang dimuat di Prisma tahun 1978, mengatakan bahwa untuk pembangunan suatu negara pada dasarnya dibutuhkan 2 % dari jumlah penduduk yang berjiwa wiraswasta, kecilnya jumlah wiraswasta ini antara lain disebabkan karena etos kerja yang kurang menghargai kerja keras, kondisi lingkungan ekonomi baik masa penjajahan maupun sudah kemerdekaan dengan segala konsekuensinya dalam masyarakat. Di samping itu ada hal yang lebih penting yaitu sikap mental wiraswasta.
Seorang wiraswasta itu ternyata harus memiliki karakter psikologik (sifat kepribadian) yang cukup menonjol dan secara kualitatif lebih dari kebanyakan manusia pada umumnya. Namun dalam hal ini diakui pula bahwa sifat kepribadian ini bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilannya. Faktor lain yang menunjang keberhasilan kewirausahaan diantaranya adalah sistem ekonomi yang kondusif untuk perkembangan kewirausahaan di masyarakat, kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan adat istiadat, serta nilai-nilai budaya di mana ia tinggal. (Moh.As’ad,2004)
Mattulada (1985) berpendapat bahwa, sikap mental kewirausahaan yang cukup dianggap mewakili kondisi masyarakat Indonesia yakni:
  1. Tanggapan terhadap waktu. Sikap mental yang mendukung kewirausahaan adalah sebanyak mungkin aktifitas hidupnya itu berorientasi ke masa depan. Nampaknya berorientasi ke masa depan begitu juga berkembang dalam mentalitas orang Indonesia.
  2. Tanggapan terhadap hakikat hidup. Dalam menghadapi hidup orang harus menilai tinggi unsur-unsur yang menggembirakan dan unsur yang mendorong upaya ke arah kebahagiaan dalam kehidupan sikap mental semacam ini nampaknya masih kurang dalam kebudayaan bangsa Indonesia. Orang masih sering memberikan tanggapan pasif terhadap kehidupan terutama mengenai konsep rejeki yang dapat datang tanpa usaha yang keras.
  3. Tanggapan terhadap hubungan dengan sesama manusia. Sikap mental yang dipandang mendorong terjadinya kemajuan dalam masyarakat adalah sikap mental yang berorientasi kepada sesamanya yakni menilai tinggi unsur kerjasama dengan oranglain tanpa meremehkan kualitas individu dan tanpa menghindari tanggungjawab sendiri. Di Indonesia masalah kerjasama ini yang masih harus diupayakan sebab kadangkala mengandung aspek negatif yang mengarah ke kualitas individu (kerjasama ke arah yang negatif).
  4. Tanggapan terhadap kerja. Sebagian besar masyarakat Indonesia masih menunjukkan sikap mental hanya mementingkan kerja untuk kedudukan dan prestise saja. Sikap yang demikian ini jelas tidak mendukung untuk kemajuan suatu bangsa, karena ada kecenderungan meremehkan kualitas sehingga kurang tabah dan ulet.
  5. Tanggapan terhadap alam. Sikap mental yang mendorong keinginan orang ntuk menguasai alam beserta isinya dipandang sebagai sikap mental yang dapat mengembangkan kemajuan dalam masyarakat.
Menurut Mc.Clelland, seorang wirausaha dianggap berhasil bila ia mampu bertahan dan mencapa tujuan dalam bidang usahanya. Dalam hal ini berarti mereka yang tidak drop out dalam bidang usahanya
            Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh ahli-ahli Ilmu-Ilmu Sosial keberhasilan seorang wiraswasta/wirausaha apabila ditinjau dari karakteristik psikologiknya, mereka itu mempunyai profil karakteristik psikologik tertentu yaitu: (Iman Santoso Sukardi, 1979):
1.      Self confidence
2.      Originality
3.      People oriented
4.      Task-result oriented
5.      Future oriented
6.      Risk-tasking
Dari berbagai penelitian para ahli di bidang perilaku kewirausahaan disimpulkan bahwa :
  1. Dorongan untuk berprestasi berpengaruh terhadap perkembangan atau hasil usaha seseorang.
  2. Individu yang mempunyai kebutuhan berprestasi yang tinggi cenderung memiliki profesi bisnis atau usaha.
  3. Individu yang mempunyai kebutuhan untuk berprestasi tinggi cenderung menetapkan tingkat aspirasi secara realistik.
  4. Individu yang mempunyai kebutuhan untuk berprestasi yang tinggi, selalu memiliki tugas atau pekerja yang mempunyai resiko yang sedang, dan selalu mementingkan hasil akhir yang baik, sesuai dengan standar yang ditetapkan sendiri.
  5. Kebutuhan berprestasi dari para pengusaha dari berbagai latar belakang kebudayaan pada prinsipnya dapat lebih dikembangkan.
  6. Keberhasilan para pengusaha di negara-negara sedang berkembang disebabkan salah satu faktornya yaitu mempunyai kebutuhan berprestasi yang tinggi.
  7. Dengan kebutuhan berprestasi yang tinggi memungkinkan seorang pengusaha mempunyai inisiatif yang tinggi, mau mengeksplorasi, dan secara kontinu mengadakan penelitian terhadap lingkungan guna menemukan cara-cara yang baru untuk dapat memecahkan masalahnya secara memuaskan. (Moh.As’ad, 2004).
Oleh karena itu, guna menunjang hal tersebut diperluka maksimalisasi potensi diri. Potensi diri adalah kemampuan dan kekuatan yang dimiliki oleh seseorang baik fisik maupun mental yang dimiliki seseorang dan empunyai kemungkinan untuk dikembangkan bila dilatih dan ditunjang dengan sarana yang baik ( Habsari 2004:2), sedangkan diri adalah seperangkat proses atau ciri-ciri proses fisik,prilaku dan psikologis yang dimiliki.
Kekhasan potensi diri yang dimiliki oleh seseorang berpengaruh besar pada pembentukan pemahaman diri dan konsep diri. Ini juga terkait erat dengan prestasi yang hendak diraih didalam hidupnya kelak. Kekurangan dan kelebihan yang dimiliki dalam konstek potensi diri adalah jika terolah dengan baik akan memperkembangkan baik secara fisik maaupun mental.
Jadi, korelasi kewirausahaan dan potensi berwirausaha dalam diri mahasiswa sangat erat. Karena, kedua hal itu sangat bergantung sama lain. Dan, menjadi wirausaha tidak perlu menunggu dulu terlebih dahulu,  pada dasarnya semua bisa dimulai sejak dini, karena mahasiswa adalah tonggak peradaban.

Psikodrama ‘Orangtuaku Sahabatku’

hihihihi

PEMERAN :
Ibu I (Ibu Khodijah) usia 35th: Ibu yang sangat baik, sangat memahami si anak, ibu yang sikapnya lembut pada anak, dan sabar, suka memberi nasehat, dan selalu tersenyum, tidak pernah marah, dan tegas. (AULIA)
Ibu 2 (Ibu Zulaikha) usia 35th : Ibu yang kejam, suka memukul anak jika anak sedikit membangkang atau melakukan kesalahan pada orangtua, hubungan tidak rukun dengan suami, suka marah, terlalu keras pada anak. (LINA)
Anak I (Sholih) usia 12th: anak dari ibu Khodijah, anaknya baik, penurut, pintar, prestasi di sekolah baik, tidak pernah bertengkar, selalu ranking satu di sekolah, berani, dan jujur, rajin belajar. (ROFIQ)
Anak 2 (Sholihah) usia 7 th: anak dari ibu Khodijah, anaknya baik, penurut, pintar, prestasi di sekolah selalu baik, selalu melerai teman jika bertengkar, berani, jujur, suka menolong, perhatian pada orangtua dan saudara, serta teman, rajin belajar. (BELLA)
Anak 3 (Abu) usia 12th: anaknya suka memukul dan berkelahi, omongannya kasar, tidak hormat pada orangtua, suka membolos, tidak jujur, nilainya selalu jelek. (INDRA)
Anak 4 (Lai) usia 7th : anaknya genit, suka menggoda pria dewasa, omongannya kasar, suka memukul, malas belajar, nilainya selalu jelek, suka berbohong, kurang perhatian orangtua. (NIA)
Ayah I (Muhammad) ayah anak 1 dan 2, suami istri 1, usia 40th: ayah yang baik, perhatian pada keluarga, tidak pernah marah, tegas, selalu mendampingi anaknya belajar, sabar, suka memberi nasihat. (BRIAN)
Ayah 2 (Fir’aun) : sombong, kejam, suka memukul anak, suka membentak istri dan anak, suka mabuk-mabukan, dan sering merokok, suka berjudi, malas bekerja. (YANUAR)
Nenek Minah : Nenek yang mau menyeberang jalan (NELI)
Bu Fatimah :Guru yang baik hati (NELA)
Sahabat Lai : Ina (LUSI)
Sahabat Sholih : Aisyah (YOLANDA)
Sahabat Sholihah : Fai (MEME)
PROLOG
Di suatu desa yang sangat indah, penduduknya tergolong ramah dan suka bergotong royong. Penduduknya sangat rukun dan sangat mengenal satu sama lain walaupun tempat tinggalnya berbeda RT, RW, bahkan dukuh. Tetapi, desa itu memiliki permasalahan, banyak kasus orangtua yang bercerai karena keegoisan mereka dengan tidak memperhatikan nasib dan perkembangan anaknya, karena faktor ekonomi dan negara yang kurang konsisten membimbing untuk mencapai kesejahteraan warga negaranya sehingga masih banyak yang miskin tapi korupsi para pejabat masih merajalela di instansi kenegaraan yang menjadi lahan subur, akhirnya nekat untuk bekerja ke luar negeri dan meninggalkan anak-anak mereka tanpa tahu tumbuh kembang anak selama mereka tidak ada, anak-anak pun terganggu dalam perkembangannya. Seharusnya, masa anak-anak adalah masa emas karena sebagai pondasi perkembangan dan pertumbuhan mereka kelak ketika sudah menjadi sosok yang matang sebagai seseorang yang dewasa.
Dengan sedikit permasalahan itu, banyak juga keluarga yang rukun dan kuat mempertahankan hubungan rumahtangganya sehingga anak bisa tumbuh dan berkembang dengan semestinya, masih ada keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warohmah di desa tersebut, Insya Allah.
Di antara sekian banyak kepala keluarga, ada dua keluarga yang sangat bertolak belakang dalam kehidupan dan cara mendidik si anak. Keluarga pertama adalah keluarga bapak Fir’aun, keluarga ini tidak rukun, bapak Fir’aun sering bertengkar dengan istrinya, panggil saja ibu Zulaikhah, dan anaknya pun juga jadi sasaran amarah, anaknya bernama Abu kelas 6 SD dan Lai kelas 2 SD, masih sekolah di SD Ulul Albab di desa itu, dan menjadi anak yang bermasalah.
Keluarga kedua adalah keluarga bapak Muhammad, istrinya bernama ibu Khodijah. Keluarga tersebut rukun dan sederhana, banyak tetangga yang iri dan salut pada hubungan mereka, karena ketika ada masalah dalam keluarga selalu dihadapi dengan kepala dingin dan dengan jalan musyawarah, anak mereka bernama Sholih dan Sholihah pun menganggap orangtuanya bukan sekedar orangtua, akan tetapi sebagai sahabat. Sholih dan Sholihah bersekolah di sekolah dan kelas yang sama dengan Abu dan Lai.
ADEGAN I
Di pagi yang cerah
Di rumah Bapak Fir’aun.
Zulaikha : “Abuuu…Laiii…Banguuun…sudah pagi! Cepetan berangkat sekolah!”
(sambil memasak di dapur)
Abu : “Iyoyo,bu. Cerewet banget sih!” (sambil mengucek mata)
Zulaikha : “Kurang ajar kamu, ngatain ibu kurangajar! Cepetan!”
(sambil membawa sutil menuju Abu dan menjulurkan sutil ke tangan Abu)
Abu : “Aduh, sakit,bu!” (sambil mengerang dan meniup lukanya).
Zulaikha : “Mangkane ta, ojok kurangajar karo ibu! Ndang adus kono!”
Abu : (Abu melotot ke ibunya sembari meninggalkan ibunya)
Lai : (Lai melihat ke ibu)
Zulaikha : “Ndang adus kono, iki pisan melok-melok mas’e kono! Bangunin bapakmu
dulu tuh! Tidur terus, emang nggak kerja hari ini?”
(sambil mendorong kepala Lai)
Lai : “Iya” (meninggalkan ibu dan menuju ayah yang masih tidur)
(Pak Fir’aun masih pulas tidurnya)
Lai : “Pak, bangun! Bangun,pak!” (sambil menggoyang-goyangkan badan ayah)
Fir’aun : “Opo seh?! Bapak masih ngantuk, engkok ae! Sana kamu berangkat sekolah!”
(Fir’aun kembali tidur, dan Lai kembali ke ibunya)

Lai : “Bu, bapak nggak mau bangun lho!”
Zulaikha : “Oh, pancene bapakmu iku. Nggak bener samasekali. Kerjaannya mabuk judi terus! Merokok yo bablas, susu anak’e nggak dibeliin” (mengomel sambi menuju bapak). “Pak, tangi! Wes isuk iki! Nggak kerjo a?”
Fir’aun : “Opo seh,bu. Wes talah, masak kono!”
Zulaikha : “Opo-opo, yo tangi! Ndang adus terus budhal kerjo! Mangkane ojok mabuk ae, mulih bengi, nggak nggowo duwit, malang ngabisin duit. Judine iku pisan terusno ae!”
Fir’aun : “Lambemu iku lho jogoen!” (membentak)
Lai dan Abu : (mengintip dan berangkat sekolah)
ADEGAN 2 :
Di rumah bapak Muhammad.
Ibu : “Sholih, Sholihah sayaaang…sudah bangun? Ayok bangun dulu! Sholat Shubuh, setelah itu segera mandi dan berangkat sekolah,jangan lupa sarapan dulu ya,sayang.”
(Sholih dan Sholihah mendatangi ibu dan mengucek mata)
(Mereka sekeluarga sholat shubuh berjama’ah, setelah sholat berjama’ah ibu menyuruh Sholih membantu ayah membersihkan rumah)
Ibu : “Sholih, Sholihah, kamu membantu bapak membersihkan rumah ya!”
Sholihah : “Ibu masak apa? Sholihah bantuin ya! Kak sholih yang membantu bapak aja.”
Sholih : “Iya.”
(Ibu tersenyum dan mengangguk kemudian ibu dan Sholihah menuju dapur. Sholih dan ayah membersihkan rumah)
(Sholihah dan ibu memasak)
(Ayah yang selesai bersih-bersih rumah menghampiri Ibu, dan Sholih mandi)
Bapak : “Istriku yang sholihah, hari ini masak apa? Hmm…sepertinya enak nih!
Jadi tidak sabar untuk menghabiskan makanan nih! hehe”
Ibu : “Ah,bapak bisa saja! Ibu memasak tumis dan ikan.”
Sholih selesai mandi dan memanggil adiknya
Sholih : “Adiiik… kakak sudah selesai mandi, sekarang giliran kamu.”
Sholihah : “Iya,kak.”
Setelah Sholih dan Sholihah selesai mandi, mereka sarapan bersama ayah dan ibu.
(Setelah sarapan, Sholih dan Sholihah pamit kepada orangtuanya dan bersalaman).
Sholih Sholihah pamit : “Assalaamu’alaikum”
Ayah dan Ibu : “Wa’alaikumsalam”
Ayah : “Hati-hati di jalan. Selamat belajar.”
ADEGAN 3 :
Di sekolah, Abu berdiri di depan sekolah.
Abu : “Ah, males sekolah! Bolos sajalah! Mau main aja! Lai, bolos yuk! Males nih masuk!”
Lai : “Bolos kemana,kak?”
Abu : “Ya, maen, bego! Ayo, tapi jangan bilang bapak sama ibu ya! Kalau ngomong,
awas kamu!”
Lai : “Iya,kak”
Abu : “Yuk!”
Ina pun lewat, dan Lai memanggilnya.
Lai : “Ina, ikut kami yuk!”
Ina : “Kemana?”
Lai : “Bolos.”
Ina : “Ayo, bosen nih! Aku sebel tadi lihat orangtuaku bertengkar lagi membahas
cerai.”
Lai : “Sama donk! Ya udah, berangkat yuk!”
(mereka pun meninggalkan sekolah)
Di jalan, mereka berpapasan dengan Sholih dan Sholihah. Dan Sholih menyapa Abu, Ina dan Lai.
Sholih : “Selamat pagi, Abu dan Lai! Kalian mau kemana? Kok balik lagi?”
Abu : “Yok! Mau main. Daripada sekolah, males.”
Sholihah : “Berarti kamu bolos donk?”
Abu : “Emang kenapa?”
Sholih : “Itu’kan perbuatan yang tidak terpuji, apalagi tidak ijin sama bu guru.”
Sholihah : “Kalian sama aja membohongi orangtua kalian.”
Lai : “Kita tidak peduli. Toh, ibu sama bapakku nggak ngurusin. Bapak juga masih tidur jam segini. Jadi, nggak bakal ketahuan. hahaha” (sambil ketawa)
Sholih : “Masya Allah”
Lai : “Ya udah, kami cabut dulu ya!”
Lai dan Abu meninggalkan Sholih dan Sholihah, dan kedua anak pak Muhammad dan bu Khodijah melanjutkan perjalanan ke sekolah,
Di dalam kelas
Guru : “Selamat pagi,anak-anak pintar!”
Sholih dan Aisyah : “Selamat pagi,bu.”
Guru : “Ibu absen dulu ya! Aisyah?”
Aisyah : “Hadir,bu!”
Guru : “Sholih?”
Sholih : “Hadir,bu.”
Guru : “Abu?”
Sholih : “Tidak hadir,bu. Tadi saya ketemu Abu di depan sekolah, katanya malas sekolah.”
Guru : “Kenapa?”
Sholih : “Tidak tahu,bu.”
Guru : “Ya sudah. Yang penting kalian tidak meniru perbuatan itu, karena
membolos adalah perbuatan yang tidak terpuji, dan tidak disukai oleh
Tuhan.”
Sholih dan Aisyah : “Iya,bu.”
Guru : ”Baik, sekarang kita membahas PR kemarin ya!”
Di kelas Sholihah,
Guru : “Sholihah, kamu tahu Lai kemana ya?”
Sholihah : “Tadi Lai ikut kakaknya tidak masuk sekolah,bu.”
Guru : “Ya sudah, nanti ibu yang urus.”
Sambil berbisik Fai, sahabat Aisyah, bertanya pada Aisyah
Fai : “Aisyah, memang Lai kemana?”
Sholihah : “Membolos”
Fai pun mengangguk.
ADEGAN 4
Di jalan
Abu, Lai dan Ina duduk di pinggir jalan. Ada cowok yang lewat, dan digoda oleh Lai.
Lai : “Mas…mas…menoleh dulu donk!”
Cowok itu hanya menggeleng kepala. Abu, Lai, dan Ina pun ketawa.
Sepulang sekolah, Sholih, Sholihah, dan Fai bertemu nenek tua yang mau menyeberang. Dan di pinggir jalan mereka bertemu dengan Abu, Lai, dan Ina yang sedang makan jajan.
Sholihah : “Kakak, Fai, ada nenek tua yang mau menyeberang tuh! Yuk kita bantu!”
Sholih dan Fai : “Ayo…ayo…”
Ketika Sholih, Sholihah, dan Fai hendak membantu nenek menyeberang, Abu yang melihat mereka, lalu menghampiri mereka.
Abu : “Kalian mau ngapain?”
Fai : “Kita mau membantu nenek itu, Abu. Kasihan nenek itu mau menyeberang.”
Lai : “Nggak usah dibantu, kan nenek itu bisa menyeberang sendiri.”
Sholihah : “Ya tidak boleh seperti itu. Kata bapak sama ibuku, kita harus saling tolong menolong.”
Ina : “Nggak penting.”
Sholih menggandeng nenek itu
Sholih : “Nenek, mari kami bantu menyeberang.”
Nenek : “Oh iya,nak. Terimakasih ya! Kalian memang anak-anak yang baik.”
Abu menghalangi jalan di depan mereka sambil ketawa
Abu : “Nggak boleh lewat, nggak boleh lewat. Hayooo…hahahaha”
Ada sebuah motor yang melaju dengan sangat kencang dan menyerempet Abu. Abu pun jatuh, dan mengerang. Semua yang ada di situ membantu Abu.
ADEGAN 5
Di rumah Abu. Abu terbaring di tempat tidurnya, di ruangan itu ada orangtua Sholih dan Sholihah, orangtua Abu dan Lai, Sholih, Sholihah, Lai, Ina, dan Fai.
Abu memulai pembicaraan
Abu : “Maafin Abu ya, Sholih, Sholihah, dan Fai. Abu pengen punya orangtua kayak orangtuamu. Kayaknya nggak pernah marah, dan lembut sekali, bisa menjadi sahabat.”
Sholih : “Iya, nggak apa-apa. Maafkan kita juga ya! Walaupun orangtua kamu keras sama kamu, tapi mereka sayang sama kamu, hanya saja caranya yang keliru.”
Lai : “Iya.”
Muhammad : “Yang jelas menjadi orangtua harus tegas, tapi tidak keras.”
Fir’aun : “Iya,pak. Saya menyesal jika anak-anak saya jika nanti seperti saya.”
Zulaikha : “Saya juga menyesal sering memukul mereka, dan menjadikan mereka takut
sama saya.”
Khodijah : “Yang jelas kita sebagai orangtua bisa menjadi sahabat anak kita.”
Sholihah : “Iya, saya dan kak Sholih juga menganggap orangtua kita sebagai
sahabat kita, bukan sekedar menjadi orangtua semata.”
Semua pun tertawa dan bersalaman…
Itulah akhir dari psikodrama ini, hikamahnya adalah orangtua merupakan pelukis anak, anak merupakan tabularasa. Anak menjadi bermasalah jika orangtua keliru dalam pola asuhnya. Jadikan anak sahabat anda!

(Ditampilkan pada program unggulan kelompok Karangkates 1 pada talkshow pola asuh orangtua yang baik bagi perkembangan anak tema “Kenali Dunia Anak Anda!” di Kab. Malang)

Written by : Pustakasari